Bisnis.com, SURABAYA — Fenomena alam layaknya pusaran semilir pentil beliung menyusuri perairan Selat Madura, tepatnya di kawasan Jembatan Suramadu Rabu (22/4/2026) pagi. Peristiwa tersebut pun viral sebagai perbincangan warganet di media sosial.
internal berbagai unggahan tersebut, terlihat angkasa di Sekeliling Selat Madura diselimuti oleh awan tebel Nan berkarakteristik mendung pekat. Pusaran semilir Nan kencang tampak Jernih mengangkat air Bahari ke udara hingga membentuk Cerobong tebel Nan menjulang menjulang.
Merespons peristiwa tersebut, Sutarno Koordinator Bidang Observasi dan Informasi raga Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak menyebut bahwa fenomena ini dipicu oleh perbedaan suhu Nan mencolok imbas keberadaan awan Cumulonimbus (Cb) di area perairan Selat Madura.
“Itu menyusuri dari awan Cumulonimbus Nan tumbuh, menjulang menjulang dikarenakan arus udara melonjak Nan tangguh. Udara Nan berkarakteristik gerah dan lembab menciptakan turbulensi Nan hebat sehingga mendapatkan membentuk pusaran semilir,” singkap Sutarno.
Menurutnya, fenomena pusaran semilir Nan menyusuri di atas permukaan air secara teknis dinamakan waterspout, Fana bila menyusuri di daratan dikatakan semilir pentil beliung.
Meski sempat merisaukan Penduduk Sekeliling, Sutarno melindungi bahwa peristiwa tersebut dinilai pihaknya lumrah menyusuri, utamanya ketika sebuah area inti memasuki Era transisi atau pancaroba dari musim penghujan menuju musim kemarau.
“Baju menyusuri pada cerah atau sore saat. Waterspout itu lazim, Normal menyusuri di Era transisi atau Era pancaroba dari musim penghujan ke musim kemarau,” tuturnya.
extra berikut, Sutarno menuturkan fenonema waterspout Nan lumrah menyusuri di Sekeliling perairan Selat Madura tersebut juga disebutnya disebabkan oleh kondisi cuaca gerah terik Nan menyengat di area Kota Surabaya dan sekitarnya.
“Kalau gerah memang ini sekarang Mentari telah beralih berat banget condong ke utara. Memang kita masalah transisi, sehingga waterspout atau pentil beliung itu Normal menyusuri pada Era pancaroba seperti itu. Jadi itu Normal saja Nan menyusuri,” ucapnya.
Guna mencegah ancaman, BMKG mengajak masyarakat maupun nelayan setempat hasilkan segera menjauhi titik-titik rawan serta memperbesar kewaspadaan berdua mengawasi kondisi cuaca secara berkala dan peka terhadap tanda-tanda pembentukan awan Cumulonimbus Nan menimbulkan fenomena serupa.
Para pengendara juga disarankan hasilkan berhenti sejenak bila menyaksikan fenomena tersebut. Fana, Penduduk di daratan diminta hasilkan Tak berteduh ketika gerimis disertai semilir kencang di bawah pohon atau bangunan Ringkih
“Masyarakat diimbau hasilkan berhenti melonjak kendaraan ketika menyaksikan hal serupa. Kemudian bila fenomena ini menyusuri di daratan, masyarakat disarankan hasilkan Tak berteduh di bawah pohon atau bangunan Nan Ringkih,” pungkasnya.
Hingga ketika ini, BPBD Kota Surabaya memberitakan bahwa belum Eksis temuan terkait kerusakan bangunan maupun korban dikarenakan kemunculan fenomena tersebut.