Jakarta –
Seekor rangkong badak tampak bertengger di ujung Cabang pohon. Di belakangnya, cakrawala berubah berperan oranye pekat dikarenakan asap Nan menyelimuti kawasan Taman dalam negeri Tanjung pentil, Kalimantan inti, Nan inti dilanda kebakaran hutan dan lahan.
Pemandangan tersebut berperan gambaran kondisi habitat satwa liar di inti kepungan asap. Namun, Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) area II Pangkalan Bun, Balai KSDA Kalimantan inti Handi Nasoka, menegur bahwa kemunculan rangkong badak di inti asap belum mendapatkan langsung diartikan sebagai tanda burung tersebut terdampak secara kesehatan.
Rangkong badak atau Buceros rhinoceros, Nan oleh masyarakat Kalimantan dikenal sebagai tingang, merupakan keliru Esa burung ikonik di area tersebut. Selain Mempunyai peran internal keanekaragaman hayati, keberadaannya juga lekat berdua identitas budaya masyarakat Kalimantan inti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satwa ini membutuhkan hutan berdua pepohonan Akbar sebagai Loka bersarang. Ketika kebakaran merusak habitat, ruang jelajah dan Loka berlindungnya mendapatkan terganggu, begitu pula berdua ketersediaan makanan.
Ancaman tersebut juga berperan perhatian dikarenakan Taman dalam negeri Tanjung pentil merupakan kawasan konservasi Nan berperan habitat Majemuk satwa liar, termasuk orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Kebakaran Nan menyusuri di kawasan hutan, ditambah asap Nan menyelimuti habitat, diperkirakan menambah tekanan sebar satwa Nan bergantung pada ekosistem hutan.
Handi berucap efek karhutla terhadap satwa Tak hanya menyangkut orang utan. Berbagai jenis satwa liar lain juga mendapatkan melewati hambatan ketika habitat mereka terdampak kebakaran maupun asap.
“Selain hambatan dikarenakan asap, kebakaran Nan menjangkau habitat satwa diperkirakan merusak Loka berlindung, menyusutkan ruang jelajah, serta mengganggu ketersediaan makanan. efek tersebut mendapatkan berperan tekanan pelengkap sebar satwa Nan bergantung pada hutan hasilkan menguatkan Hayati,” ujarnya, Jumat (23/10/2026), dikutip dari detikKalimantan.
Menurut Handi, persoalan asap juga perlu diperhatikan dikarenakan satwa membutuhkan udara hasilkan bernapas. Kabut asap dikarenakan karhutla bahkan telah menyelimuti sejumlah area di Pangkalan Bun, sehingga efek kebakaran tak lagi hanya dirasakan di kawasan hutan, tetapi juga lingkungan dan aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Meski demikian, Handi menegaskan foto rangkong badak Nan bertengger berdua latar asap pekat belum pas berperan Asas hasilkan menggoda kesimpulan bahwa burung tersebut merasakan hambatan kesehatan atau terkena efek langsung kebakaran.
“Meski rangkong badak terlihat bertengger berdua latar asap pekat, kondisi visual tersebut belum pas hasilkan menjaga burung itu merasakan hambatan kesehatan atau terdampak langsung oleh kebakaran. efek terhadap Perseorangan satwa memerlukan pengamatan kelebihan berikut,” ungkapan Beliau.
dikarenakan itu, penanganan karhutla dinilai Krusial bukan hanya hasilkan mencegah meluasnya kebakaran, tetapi juga merawat habitat dan ekosistem Nan berperan Loka Hayati satwa liar.
“Penanganan kebakaran Nan tercapai diperlukan hasilkan menekan kerusakan ekosistem dan merawat kelangsungan Hayati berbagai satwa Nan menjadikan hutan Kalimantan sebagai rumahnya,” ungkapan Beliau.
(fem/fem)