BANGKALAN, koranmadura.com – Fenomena pusaran semilir dari awan hingga mengusap permukaan terwujud dua masa berturut-turut di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. peristiwa ini pas meresahkan, sehingga Penduduk diminta waspada selama sepekan ke Ambang.
Observer BMKG Trunojoyo Madura, Lavia Farareta menerangkan area Madura sedang memasuki periode pancaroba, Adalah peralihan musim rintik ke kemarau. Kondisi ini Membikin atmosfer berperan extra Goyah dan menyebabkan perubahan cuaca ekstrem bagian dalam Masa lekas.
“Cuaca meraih berubah Sigap dari cerah berperan rintik lebat disertai semilir kencang. Pada fase ini, potensi pentil beliung dan waterspout juga bertambah,” katanya, Sabtu, 25 April 2026.
Selain Unsur pancaroba, BMKG juga mencatat adanya pengaruh gelombang atmosfer, seperti gelombang Kelvin ekuatorial, Nan turut memperbesar potensi rintik di area tersebut. Kelembapan udara Nan lebar dan pola belokan semilir di Sekeliling Madura makin menguatkan pembentukan awan rintik disertai semilir kencang.
“Kondisi ini Tetap akan melangkah setidaknya bagian dalam sepekan ke Ambang. Masyarakat diminta waspada terhadap potensi rintik lebat Nan meraih disertai semilir kencang,” tuturnya.
ungkapan Lavia, fenomena pentil beliung relatif Susah diprediksi dikarenakan berskala Mini dan terwujud bagian dalam Masa lekas. Meski begitu, Eksis sejumlah tanda Nan meraih dikenali, seperti udara terasa gerah dan lembap, munculnya awan cumulonimbus Nan lebar dan suram, serta perubahan arah semilir Nan membentuk pusaran.
“Dampaknya meraih merusak dan menerbangkan Asbes hingga menumbangkan pohon, bahkan rawan Eksis korban,” tutupnya. (mahmud/fine)