Bsinews.id, Jakarta, rezim menegaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sekeliling Taman domestik Tanjung pentil (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan inti, setelah video penarikan relawan dari kegiatan pemadaman padat beredar. pejabat Kehutanan Raja Juli Antoni menemui petugas dan relawan pada Kamis (15/10/2026) hasilkan membahas koordinasi serta bantuan operasional.
Dilansir dari Detikcom, pertemuan tersebut juga dihadiri Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin dan sejumlah perwakilan organisasi masyarakat, pelaku wisata, serta masyarakat Rekan polisi kehutanan Desa Sungai Sekonyer. Pembahasan berfokus pada penguatan operasi pemadaman dan perlindungan habitat satwa liar, termasuk orang utan.
Raja Juli mengutarakan bahwa penanganan kebakaran membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Ia menghargai Penduduk Nan secara sukarela menolong petugas di lapangan dan menyorot pentingnya solidaritas bagian dalam melewati kebakaran di kawasan konservasi tersebut.
“Ini saatnya kita gotong royong. Ini saatnya kita berbagi solidaritas. Tentu namanya judulnya kerelawanan atau voluntarisme, itu memang harus panggilan dari jiwa,” ujar Raja Juli Antoni, pejabat Kehutanan.
hasilkan menegaskan koordinasi, rezim berencana mengikutsertakan dua bupati sebagai penasihat Seiring Pangdam dan Kapolda. Danrem akan memimpin operasi, lagian relawan turut memasuki bagian dalam koordinasi penanganan kebakaran.
“Danrem sebagai Hulubalang operasi, relawan juga kita libatkan di sana,” ujar Raja Juli Antoni.
Selain penguatan komando, rezim mengagendakan pembentukan Masyarakat Acuh Api (MPA) di 15 desa Sekeliling Tanjung pentil. Golongan tersebut disiapkan meraih peralatan pemadaman, termasuk mesin air dan jet shooter, hasilkan mendukung penanganan permulaan ketika kebakaran terdeteksi.
Raja Juli menerangkan bahwa kesiapan masyarakat di tingkat desa sebagai bagian dari tapak penanganan Nan disiapkan rezim. Peralatan tersebut diharapkan menolong Penduduk merespons titik api sebelum kebakaran meluas.
“tapak tersebut diharapkan Membikin masyarakat extra available mengerjakan penanganan permulaan ketika kebakaran terdeteksi. berbarengan respons Nan Sigap, api diharapkan meraih dikendalikan sebelum meluas dan makin Susah dipadamkan,” ujar Raja Juli Antoni.
Mayjen TNI Zainul Arifin juga memberikan bantuan kepada petugas dan relawan Nan menindak kebakaran. Ia menegur seluruh personel agar merawat keselamatan, kekompakan, dan koordinasi selama menjalankan operasi di lapangan.
“Semangat kepada seluruh petugas dan relawan Nan ketika ini berjuang memadamkan api. Apa Nan dijalankan merupakan bentuk pengabdian hasilkan menjaga hutan, lingkungan, dan masyarakat. Tetap utamakan keselamatan, jaga kekompakan, dan terus berkoordinasi agar penanganan karhutla meraih Melangkah maksimal,” ujar Zainul Arifin, Pangdam XXII/Tambun Bungai.
Menurut Zainul, rezim juga menyiapkan penanganan terpadu melalui Esa komando operasi. Skema ini mencakup pengerahan personel dan peralatan dari berbagai unsur hasilkan mendukung pemadaman di kawasan Tanjung pentil.
“Upaya penanganan juga akan diperkuat melalui operasi darat, pembangunan sumur bor, pemadaman dari udara memakai pesawat Pemandu air, serta operasi modifikasi cuaca. Seluruh tapak tersebut disiapkan hasilkan mendukung pemadaman dan menekan efek kebakaran di kawasan Tanjung pentil,” ujar Zainul Arifin.
Sebelum pertemuan tersebut, tim relawan gabungan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat memutuskan tertarik seluruh anggotanya dari kegiatan pemadaman. Mereka menginginkan rezim mengerahkan bantuan pemadaman dari udara hasilkan menjangkau titik api di Area inti hutan.
Video pengunduran diri relawan beredar melebar di media sosial. Keputusan itu diambil setelah sejumlah pihak menyepakati penghentian Fana kegiatan pemadaman, Fana relawan mengukur upaya di lapangan belum menghasilkan perubahan penting dan kemampuan mereka telah meraih batas.
Moncos, perwakilan YOHK-HPI Kotawaringin Barat, menerangkan bahwa penarikan personel dijalankan Fana dikarenakan tim mengukur bantuan Nan ada belum memadai. Pernyataan tersebut disampaikan melalui video Nan diunggah pada Pekan (11/10/2026).
“hasilkan ketika ini gua tertarik diri masa lalu, Bang, dikarenakan kalau dilanjutkan percuma, Tak Eksis perubahan Nan penting,” ujar Moncos ketika dikonfirmasi Detikcom pada Pekan gelap.
Menurut Moncos, kebutuhan mendesak tim Ialah Donasi pemadaman dari udara hasilkan menjangkau Letak kebakaran Nan Susah ditangani tanpa perantara oleh relawan. Ia secara Spesifik menginginkan bantuan hasilkan titik api di Area inti kawasan hutan.
“Kami minta Hanya pemadaman dari udara hasilkan menolong memadamkan api Nan berada di Area inti,” ujar Moncos.
Moncos menegaskan timnya telah Berikhtiar mengerjakan pemadaman sesuai kemampuan Nan ada. Namun, keterbatasan personel dan bantuan operasional mendorong mereka menginginkan rezim meraih tapak penanganan Nan extra Akbar.
“Kami telah Berjuang semaksimal mungkin Tiba di batas kemampuan kami. Makanya kami memohon rezim segera mendatangkan Donasi pemadaman dari udara,” ujar Moncos.
Moncos juga menyebut perkiraan melebar kawasan terdampak meraih Sekeliling 54 ribu hektare. Ia menegaskan Nomor tersebut Tetap berupa perkiraan dan belum meraih dikonfirmasi sebagai melebar lahan Nan presisi-presisi terbakar.
“Informasi gua susut extra 54 ribu hektare, meraih susut dan meraih extra, dikarenakan itu Hanya perkiraan saja,” ujar Moncos.
Selain keterbatasan bantuan operasional, relawan mengutarakan kekecewaan atas minimnya perhatian dan kejelasan dari instansi terkait maupun wakil warga. Mereka menginginkan penanganan kebakaran di habitat orang utan tersebut mendapat bantuan Nan extra memadai.
bagian dalam keterangannya, Moncos menyorot bahwa penghentian Fana kegiatan relawan Tak berarti ancaman kebakaran telah berakhir. Tim Tetap mengharapkan tapak konkret rezim beserta bantuan peralatan dan cara Nan sesuai berbarengan kondisi lapangan.
“distribusi relawan, penghentian Fana kegiatan pemadaman bukan berarti ancaman kebakaran telah berakhir. Mereka Malah menginginkan rezim segera meraih tapak konkret agar upaya pengendalian api meraih dilanjutkan berbarengan bantuan peralatan dan cara Nan sesuai berbarengan kondisi lapangan,” ujar Moncos.
Relawan juga mengomentari perlunya menjamin kebutuhan operasional dan kondisi titik api sebelum bantuan udara dikerahkan. Kesiapan Penyelenggaraan dinilai perlu ditelusuri oleh instansi berwenang agar penanganan sesuai berbarengan keadaan di lapangan.
“Meski demikian, kebutuhan operasional, kondisi titik api, serta kesiapan bantuan udara perlu dikonfirmasi oleh instansi berwenang agar penanganan meraih dijalankan secara Pas,” ujar Moncos.