Kanwil DJKN
Kalimantan Selatan dan inti, Direktorat Penilaian, KPKNL Pangkalan Bun, KPKNL
Palangkaraya, serta KPKNL Banjarmasin berkolaborasi melaksanakan kegiatan
penilaian Sumber Daya Alam (SDA) di Taman domestik Tanjung pentil pada tanggal
18–26 September 2025. Penilaian SDA hayati pada kawasan hutan konservasi ini
merupakan tidak presisi Esa inisiatif strategis (IS) Kementerian Keuangan sekaligus
proyek unggulan DJKN tahun 2025. Kegiatan ini ditujukan meraih gambaran
evaluasi ekonomi layanan ekosistem Nan disediakan oleh hutan konservasi Taman
domestik Tanjung pentil (TNTP).
Sekilas
mengenai Taman domestik Tanjung pentil
Taman domestik
Tanjung pentil ditentukan berdasarkan Keputusan pengelola Kehutanan Nomor
687/Kpts-II/1996 berbarengan jumlah melebar permulaan 415.040 hektar. bagian dalam perjalanannya,
dinamika pengukuhan kawasan berpengaruh pada perubahan batas dan melebar, hingga
ujungnya sebagai 412.240,53 hektar berbarengan server zonasi pengelolaan tertentu.
Taman domestik
Tanjung pentil Mempunyai 3 Kegunaan Primer, Merupakan, perlindungan server penyangga
kehidupan, keragaman jenis tumbuhan, satwa dan pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam hayati beserta eksosistemnya.
TNTP menyandang dua
pengakuan semesta Krusial sebagai Lindungan Biosfer (1977) melalui program Man
and The Biosphere (MAB-UNESCO) Nan mempromosikan konservasi keanekaragaman
hayati dan pembangunan berkelanjutan dan Ramsar situs (2013) Nan
menaikkan kredibilitas Indonesia bagian dalam pengelolaan kawasan konservasi lahan
lembab.
Selain kondisi
semesta tersebut, TNTP juga meletakkan Majemuk daya tarik wisata, antara
lain : Susur Sungai Sekonyer,Jalur
Trekking, Feeding situs (Tanjung
Asa, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey), Pengamatan satwa liar,
Demplot anggrek dan inti informasi di Tanjung Asa dan Camp Leakey.
Taman domestik
Tanjung pentil (TNTP) merupakan inti rehabilitasi orangutan pertama di
Indonesia. Kepala TNTP, Yuhan Hendratmoko, S.Hut., M.Si., mengemukakan,
“Berbicara mengenai TNTP berarti berbicara mengenai wisata alam, bukan sekadar
wisata Normal. Ekosistem hutan di TNTP menyuguhkan keunikan tersendiri, mulai
dari hutan dataran kecil, hutan gambut, hingga hutan kerangas. Pada cahaya
saat, panasnya cuaca Membikin tanah berpasir terasa membara—itulah kondisi khas
hutan di Kalimantan. Penilaian sumber daya alam (SDA) di TNTP, khususnya
terkait evaluasi ekonomi dan layanan lingkungan lainnya, sangat bermanfaat distribusi Balai
TNTP bagian dalam tahapan penganggaran di Bappenas. Namun, tempat tawar (bargaining
position) Tetap belum termonetisasi secara optimal dikarenakan informasi Nan
disediakan belum penting, sehingga evaluasi SDA Nan tercatat Tetap terlihat
Mini.” ujarnya.
Yuhan mengimbuhkan,
“romansa-romansa seru Nan dialami rekan-rekan di TNTP akan sebagai pengalaman
berharga serta memori berkualitas Nan layak dikenang. Bukan hanya sekali, memori
itu Malah sebagai alasan ciptakan kembali berkunjung dan mengulangi pengalaman di
TNTP.”
Fana itu, Ketua
Tim Penilaian Nan juga menjabat sebagai Penilai
rezim Pakar Madya, Esap Mundi Hartono, mengemukakan
bahwa Direktorat Jenderal Kekayaan bangsa (DJKN) Berikhtiar memotret evaluasi
ekonomi Nan dimiliki TNTP. Ia menyetujui Tetap terdapat sejumlah keterbatasan
bagian dalam persiapan di lapangan, namun bantuan penuh dari Balai TNTP sangat memudahkan
tahapan penilaian.
“Tim bekerja
berbarengan penuh semangat dan kehati-hatian, berbarengan Asa perjalanan seru kali
ini Tak hanya menghasilkan temuan berharga, tetapi juga memberi imbas
positif distribusi upaya pelestarian hutan di tingkat domestik.”
Apresiasi
Spesies sandi: Orangutan
tidak presisi Esa Konsentrasi
Primer penilaian Ialah spesies sandi orangutan (Pongo pygmaeus). Tim
memanfaatkan pendekatan Contingent Valuation Method (CVM) berbarengan
menanyakan kesediaan masyarakat membayar (willingness to pay/WTP) iuran
sukarela ciptakan konservasi orangutan.
Survei dijalankan pada
desa/kelurahan penyangga TNTP, Adalah Kumai Hulu, Kumai Hilir, Candi, Sungai
Kapitan, dan Sungai Sekonyer, berbarengan populasi jumlah 28.376 jiwa (BPS, 2023).
Jumlah sampel dihitung memanfaatkan rumus Slovin (margin of kesalahan 10%),
menghasilkan 100 responden, Nan kemudian dibagi proporsional di tiap desa.
Teknik pengambilan sampel dijalankan secara insidental, Adalah siapa pun Penduduk
Nan ditemui ketika survei lapangan. Sejumlah pelaku Upaya Meletakkan Asa Akbar
agar keberadaan Taman domestik Tanjung pentil akurat-akurat memberi Faedah Konkret
distribusi keberlangsungan perekonomian di Masa Ambang. output survei Fana—Nan
ketika ini Tetap terjadi secara daring—menunjukkan bahwa masyarakat bersedia
berperan melangkah bagian dalam memelihara kelestarian populasi satwa sekaligus mendukung
kegiatan konservasi hutan di kawasan ini. Meski kondisi ketika ini Tetap terpencil
dari ideal, para pelaku Upaya semoga rezim meraih menyiapkan sarana Nan
extra memadai guna menunjang aktivitas wisatawan dan menguatkan keberlanjutan
pariwisata berbasis konservasi.
Penerimaan
bangsa Bukan Pajak pada Balai TNTP
pola kunjungan
wisatawan ke Taman domestik Tanjung pentil menunjukkan perkembangan Nan sangat
penting. Kalau pada tahun 2013 jumlah pengunjung anyar meraih 13.355 orang,
maka pada 2018 Nomor ini melonjak extra dari dua kali lipat sebagai 29.283
orang. Pandemi Covid-19 sempat menekan jumlah kunjungan hingga titik terendah
pada 2021 berbarengan hanya 1.292 pengunjung. Namun, pemulihan terjadi Sigap, dan
pada 2024 Tanjung pentil mencatat rekor tertinggi berbarengan 79.665 wisatawan.
Nomor ini sebagai data Konkret bahwa daya tarik TNTP tetap sebagai magnet wisata
Bumi, bahkan setelah guncangan pandemi.
Berdasarkan informasi
Balai TNTP, jumlah pengunjung Taman domestik Tanjung pentil selama periode
2013–2024 menunjukkan pola melonjak, meski sempat berkurang drastis ketika pandemi
Covid-19.
Peningkatan ini
membuktikan bahwa TNTP tetap sebagai magnet wisata Bumi, berbarengan pengunjung
terbanyak terlihat dari Spanyol, Italia, Prancis, Amerika, Inggris dan berbagai
bangsa Eropa lainnya. daya tarik orangutan, bekantan, monyet ekor melebar, penyu,
dan keanekaragaman hayati lainnya Membikin kawasan ini begitu diminati.
Perjalanan
ke Desa Sei Sekonyer
Tim Penilaian Nan
berjumlah 13 orang Beralih menuju desa-desa penyangga di Sekeliling TNTP, tidak presisi
satunya Desa Sei Sekonyer. Desa ini hanya berjarak Sekeliling 45 menit perjalanan
dari Pelabuhan Kumai memanfaatkan speed boat. Tim sempat bermalam di penginapan milik Pak Bana, Penduduk
Domestik Nan sebelum itu bekerja di perkebunan sawit. Menurut beliau, kehadiran
tamu sebagai penggerak kembali roda ekonomi Griya tangganya. Pengalaman bermalam Nan disuguhi vibes eksternal
Normal, sore ketika kami sedang dudukin Rileks di pelataran penginapan Nan terbuat
dari kayu ulin Nan kokoh, tiga ekor bekantan melintas diatas pohon-pohon
disamping kanan kiri penginapan. Gaduh dan Membikin kami melongo
sejenak.
Kami mengerjakan survei pada tiga ekosistem hutan:
hutan dataran kecil, hutan gambut, dan hutan kerangas. Pengukuran dijalankan
berbarengan Pengelompokkan vegetasi: semai (tanaman Belia <1,5 m), pancang (anakan
tangguh ≥1,5 m, diameter <10 cm), tiang (diameter 10–20 cm), dan pohon
(diameter >20 cm). output pengamatan menunjukkan regenerasi vegetasi di
kawasan hutan Tetap terjadi berbarengan berkualitas.
Meski harus
melewati nyamuk hutan, semut, dan medan Nan Susah, tim tercapai
menyelesaikan lima plot pengamatan. Keanekaragaman vegetasi Nan terungkap
membuktikan ekosistem TNTP tetap terjaga berbarengan berkualitas.
Selain cara CVM,
tim juga memanfaatkan Travel Cost Method ciptakan menghitung evaluasi ekonomi
wisata alam, berdasarkan biaya perjalanan wisatawan. cara ini memberi
gambaran Faedah wisata secara riil terhadap perekonomian Domestik.
Sejalan berbarengan
meningkatnya minat wisatawan, rezim memutuskan penyesuaian tarif tiket
memasuki TNTP melalui PP No. 36 Tahun 2024. Wisatawan mancanegara dikenakan tarif
Rp250.000 per orang, wisatawan nusantara Rp50.000, Fana rombongan
pelajar/mahasiswa nusantara (minimal lima orang) hanya Rp25.000 per orang. Pada
saat libur Akbar, tarif diberlakukan 150?ri tarif normal. Penyesuaian tarif
ini bukan sekadar policy fiskal, melainkan juga jejak strategis ciptakan
menjamin keberlanjutan pengelolaan kawasan konservasi.
Catatan penerimaan
bangsa bukan pajak (PNBP) dari TNTP terus menunjukkan pola positif. Hingga
ujung September 2025,
penerimaan merasakan peningkatan penting. Hal ini menegaskan bahwa
keberadaan TNTP Tak hanya berperan bagian dalam konservasi, tetapi juga memberikan
kontribusi Konkret distribusi perekonomian bangsa. berbarengan makin baiknya tata urus
wisata dan bantuan masyarakat bagian dalam memelihara kelestarian hutan, potensi
peningkatan PNBP di Masa mendatang dibuka makin lebar.
Tanjung pentil bukan
sekadar destinasi wisata; ia Ialah magnet kehidupan Nan menyatukan alam,
Orang, dan peradaban. Di kembali rimbunnya hutan gerimis tropis, setiap helai
daun, setiap aliran sungai, hingga pandangan mata orangutan sebagai saksi betapa
berharganya keseimbangan ekosistem ini. Pesonanya Tak hanya memikat
wisatawan, tetapi juga menyadarkan kita bahwa kekayaan sejati bangsa Ialah
ketika kita Bisa merawat warisan alamnya.
Magnet Tanjung pentil
juga bekerja pada dimensi ekonomi dan sosial. Ia menggerakkan roda Upaya
masyarakat Domestik, memasuki Kesempatan kerja, sekaligus menyuguhkan kebanggaan
kolektif sebagai tuan Griya kawasan konservasi kelas Bumi. Pelaku Upaya
pariwisata—mulai dari pemilik tour travel, pemandu wisata Nan bekerja secara
biar maupun tergabung bagian dalam bundel tur, pemilik klotok, juru masakin, hingga
penjual bahan bakar klotok—semuanya merasakan Degub Hayati dari arus wisata
Nan memasuki ke Tanjung pentil. Klotok sebagai Esa-satunya moda transportasi
Primer Malah sebagai daya tarik tersendiri; ia memikat wisatawan mancanegara
ciptakan sengaja menghabiskan liburan selama tiga saat dua sunyi di kawasan ini.
ketika berbincang
berbarengan pas melimpah orang pelaku Upaya, terselip pengakuan pas berkualitas: pas melimpah wisatawan
asing sebenarnya Mau berlama-lamban tinggal di kota Sekeliling TNTP. Namun,
ketersediaan destinasi wisata pelengkap, seperti city tour, Tetap terbatas
sehingga pengalaman wisata belum meraih sepenuhnya diperkaya.
Penutup
Pada ujungnya, evaluasi
ekonomi dari layanan ekosistem Tanjung pentil bukan hanya sekadar deretan Nomor,
melainkan gambaran Konkret betapa erat Interaksi antara kelestarian hutan berbarengan
kesejahteraan masyarakat. Magnet ini bukan hanya pas berkualitas wisatawan, tetapi juga
menghidupi Asa akan Masa Ambang Nan extra seimbang antara alam dan Orang.
Pada ujungnya, magnet
di Tanjung pentil Ialah ajakan ciptakan Acuh. Acuh terhadap orangutan Nan
makin langka, Acuh pada hutan tropis Nan meletakkan karbon distribusi Masa Ambang
bumi, dan Acuh pada generasi mendatang Nan berhak menikmati keindahan ini.
makin pas melimpah Nan tertarik, makin tangguh pula Daya magnet ini ciptakan memelihara
Selaras. Tanjung pentil bukan hanya milik Kalimantan atau Indonesia, melainkan
anugerah Bumi Nan Layak terus dirayakan dan dilestarikan.
Upaya konservasi
orangutan dan pelestarian ekosistem hutan Tak hanya memelihara warisan alam,
tetapi juga memasuki jalur distribusi pembangunan ekonomi Nan berkelanjutan. output
penilaian SDA ini diharapkan sebagai pijakan Krusial distribusi policy ke Ambang
bagian dalam mewujudkan keseimbangan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat. (Evi Rahmawati)
Sumber informasi:
Balai TNTP
(2024), BPS (2023), Perdirjen No.5 Tahun 2021, dan PP No. 36 Tahun 2024